Showing posts with label artikel-islami. Show all posts
Showing posts with label artikel-islami. Show all posts

MASA DEPAN

8:14 PM Add Comment
Aku masuk sekolah dasar untuk masa depanku. Lalu mereka berkata padaku, "Masuklah SMP untuk masa depanmu !".
Kemudian mereka berkata,"Masuklah SMA untuk masa depanmu !".

Lalu mereka berkata padaku, "Tempuhlah pendidikan sarjana untuk masa depanmu!".
Mereka berkata lagi padaku, "Jadilah pegawai untuk masa depanmu!"
Lalu mereka berkata," Menikahlah untuk masa depanmu!"

Kemudian mereka berkata, "besarkanlah anak keturunan untuk masa depanmu"
Inilah aku hari ini. Aku menulis perkataan ini sedangkan umurku sudah 77 tahun. Sementara aku masih menunggu "Masa Depan" itu.

Masa depan itu tidak lain seperti kain merah yang ditaruh di atas tanduk banteng. Banteng itu berusaha meraihnya, namun ia tidak akan pernah mendapatkannya.
Ya, sebab "masa depan" itu jika sudah dicapai maka ia akan menjadi "sekarang", dan "sekarang" akan menjadi "masa lalu".

Setelah itu kamu akan menghadapi "masa depan" yang baru.
Sungguh "masa depan" yang hakiki itu ialah engkau ridho pada Allah, engkau selamat dari nerakaNya dan engkau masuk surga.

(Syaikh Ali At Thontowi)

MEREKA TIDAK INGIN TERKENAL

8:44 PM Add Comment
Pembaca yang budiman, popularitas adalah salah satu hal yang diinginkan banyak orang. Berbagai upaya ditempuh dilakukan untuk menjadi terkenal. Tidak jarang menggunakan cara yang menyelisihi syariat. Padahal kepopulerannya tersebut bisa menjadi sarana yang menghancurkannya dan sebab ketidaktenangan bagi dirinya. Sebaliknya orang-orang sholih terdahulu sangat membenci popularitas dan berusaha menjauhinya.
Ibnu Qudamah Al Maqdisi menyebutkan sikap ulama salaf dalam menghindari popularitas sebagai berikut.
Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu pernah keluar dari rumahnya dan diikuti sekelompok orang. Dia menoleh dan bertanya, “Mengapa kalian mengikutiku? Demi Allah, andaikata kalian mengetahui isi rumahku, niscaya tidak akan ada seorang pun dari kalian yang ingin mengikutiku.”
Dalam riwayat yang lain, Ibnu Mas’ud mengatakan, “ Pulanglah, karena kehinaan akan dirasakan oleh orang yang mengikuti dan menjadi fitnah bagi orang yang diikuti”.

Abul ‘Aliyah rahimahullah jika dikelilingi lebih dari empat orang dalam majelis ilmunya, dia langsung berdiri.

Khalid bin Mi’dan rahimahullah jika majelisnya semakin ramai oleh orang langsung bangkit dan pergi karena khawatir terkenal. *)

Az Zuhri mengatakan, “Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sedikit dimiliki orang daripada kezuhudan pada kekuasaan. Kita bisa melihat orang zuhud pada makanan dan harta, namun ketika kekuasaan dibagikan, ia langsung ikut memperebutkannya.”

Seseorang berkata kepada Bisyr Al-Hafi rahimahullah, “Berilah wasiat padaku”. Maka Bisyr menjawab, “ Jauhilah popularitas dan makanlah makanan yang baik”.
Bisyr Al Hafi juga mengatakan, “Tidak akan merasakan manisnya akhirat orang yang ingin dikenal banyak orang di dunia”.

Dalam Shohih Muslim diriwayatkan bahwa Umar bin Sa’ad (yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash-pen) pergi menemui ayahnya yang sedang menggembala kambing di luar Madinah. Ketika melihatnya, Sa’ad langsung berdoa, “Aku berlindung kepada Allah dari penunggang binatang itu”. Tatkala ia mendekat, Umar berkata, “Wahai Ayah, apakah engkau ingin menjadi seseorang di tengah kawanan onta dan kambing saja, padahal orang-orang tengah memperebutkan kekuasaan di antara mereka”. Maka Sa’ad langsung memukul dada anaknya dan berkata, “ Diam! Sungguh aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إن الله يحب العبد التقى الغنى الخفي .
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, kaya, dan tidak terkenal” (HR Muslim 2965 dan Ahmad 1444)

Abu Umamah radliyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
إن أغبط أوليائي عندي لمؤمن خفيف الحاذ، ذو حظ من الصلاة، أحسن عبادة ربه، وأطاعه في السر، وكان غامضاً في الناس، لا يشار إليه بالأصابع، وكان رزقه كفافاً، فصبر على ذلك " ثم نقر بيده، فقال : " عجلت منيته، قلت بواكيه، قل تراثه " حديث حسن
“Sesungguhnya orang yang paling membuatku iri adalah seorang mukmin yang miskin, rajin mengerjakan sholat, yang membaguskan ibadah kepada Rabbnya, yang menaati-Nya ketika sendirian, tidak terkenal di antara manusia, tidak diperhitungkan di tengah-tengah mereka, rezekinya sedang-sedang saja, dan ia sabar menanggungnya.” Kemudian beliau memukul-mukulkan tangan beliau dan berkata, “ Lalu kematiannya disegerakan, wanita-wanita yang menangisinya tidak banyak, dan warisannya pun sedikit”. Hadits Hasan
(HR Ahmad 21693, Tirmidzi 2347 dan Ibnu Majah 4117, hadits ini didho’ifkan Syaikh Al Albani dalam Dho’if At Tirmidzi)

Ibnu Mas’ud berpesan kepada murid-muridnya,
كونوا ينابيع العلم، مصابيح الهدى، أحلاس البيوت، سرج الليل، جدد القلوب، خلقان الثياب، تعرفون في السماء، وتخفون على أهل الأرض
“Jadilah kalian sumber ilmu, lampu pemberi petunjuk, berdiam di rumah, pelita malam, berhati baru, berpakaian usang, dikenal di langit, dan tersembunyi di bumi”.

Apabila ditanya: Ini adalah pembahasan tentang keutamaan tidak terkenal dan celaan terhadap popularitas. Lalu bagaimana dengan popularitas para Nabi dan Imam-imam ulama yang tidak tertandingi oleh seorang pun?
Kami jawab: Yang tercela adalah usaha mencari popularitas. Sedang popularitas yang datang dari Allah Ta’ala tanpa upaya dari manusia adalah tidak tercela. Namun demikian, popularitas kerap menjadi fitnah bahaya bagi orang-orang yang lemah. Orang lemah seperti orang yang tenggelam karena tidak mahir berenang. Jika seseorang bergantung padanya, niscaya dia akan tenggelam dan menenggelamkannya. Sementara orang yang pandai berenang, jika ia menjadi pegangan bagi orang-orang yang akan tenggelam, maka ia akan menjadi sebab keselamatan bagi mereka.

Demikianlah penjelasan dari Ibnu Qudamah dalam kitabnya Mukhtashor Minhajil Qashidin.

*) Sikap para ulama dalam majelisnya ini mengingatkan pada guru kami Ustadz Rahmat Al Arifin rahimahullah yang tidak terpengaruh banyak sedikitnya hadirin dalam majelis beliau. Pernah suatu ketika majelis tafsir Al Quran beliau lebih ramai dari biasanya, namun justru beliau hanya mengisi  kurang dari 15 menit saja! Padahal kadangkala seorang penceramah akan bersemangat dan mengeluarkan segala wawasannya jika orang-orang yang hadir di majelisnya lebih banyak.

Kadar Panjang Jenggot Menurut Para Ulama

10:58 PM Add Comment
Syaikh Maulana Muhammad Zakariyya Al Kandahlawi, dalam kitab beliau Wujuubu i'faa-il lihyah menjelaskan bahwa:
Para ulama berselisih pendapat terkait kadar panjang JENGGOT yang diwajibkan:
1. Membiarkan apa adanya tanpa memotongnya sedikit pun. Ini yang dipegang ulama Syafiiyyah dan dikuatkan oleh Imam Nawawi. Ini juga merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Hanbali.
2. Sebagaimana pendapat pertama, kecuali pada saat haji dan umroh dianjurkan memotong sedikit darinya. Al Hafidz Ibnu Hajar: pendapat ini disandarkan pada Imam Asy Syafi'ie rahimahullah.
3. Dianjurkan memotong jenggot yang terlalu panjang, tanpa ada pembatasan satu genggaman tangan (Sebagaimana pendapat keempat). Ini adalah yang dipilih Imam Malik dan dikuatkan Qadhi Iyadh.
4. Dianjurkan memotong jenggot yang lebih dari satu genggaman (sehingga panjang jenggot adalah satu genggaman tangan), ini yang dipilih Mazhab Hanafi.
Berikut ini tampilan penjelasan beliau :




Nasehat Imam Nawawi untuk para Pengajar/Dai

admin 4:25 AM Add Comment
Imam Nawawi rahimahullah (631-676 H) berkata dalam kitabnya At Tibyan fii Adaabi hamalatil Qur'an:
 
وليحذر كل الحذر من قصده التكثر بكثرة المشتغلين عليه والمختلفين إليه وليحذر من كراهته قراءة أصحابه على غيره ممن ينتفع به وهذه مصيبة يبتلى بها بعض المعلمين الجاهلين وهي دلالة بينة من صاحبها على سوء نيته وفساد طويته بل هي حجة قاطعة على عدم إرادته بتعليمه وجه الله تعالى الكريم فإنه لو أراد الله بتعليمه لما كره ذلك بل قال لنفسه أنا أردت الطاعة بتعليمه وقد حصلت وقد قصد بقراءته على غيري زيادة علم فلا عتب عليه وقد روينا في مسند الإمام المجمع على حفظه وإمامته أبي محمد الدارمي رحمة الله عليه عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه قال يا حملة القرآن أو قال ( يا حملة العلم اعملوا به فإنما العالم من عمل بما علم ووافق علمه عمله وسيكون أقوام يحملون العلم لا يجاوز تراقيهم يخالف عملهم علمهم وتخالف سريرتهم علانيتهم يجلسون حلقا يباهي بعضهم بعضا حتى أن الرجل ليغضب على جليسه أن يجلس إلى غيره ويدعه أولئك لا تصعد أعمالهم في مجالسهم تلك إلى الله تعالى ) وقد صح عن الإمام الشافعي رضي الله عنه أنه قال : وددت أن الخلق تعلموا هذا العلم يعني علمه وكتبه أن لا ينسب إلي حرف منه

Hendaklah pengajar itu berhati-hati agar tidak memaksakan banyak orang yang belajar dan datang kepadanya. Hendaklah dia tidak membenci murid-muridnya yang belajar kepada orang lain selain dirinya. Ini musibah yang menimpa sebagian pengajar yang lemah.  Hal itu juga bukti jelas atas niatnya yang buruk dan batinnya yang rusak. Bahkan itu adalah hujah yang meyakinkan bahwa dia tidak menginginkan keridhaan Allah Yang Maha Pemurah dengan pengajarannya itu. Karena jika dia menginginkan keridhaan Allah ta'alaa dengan pengajarannya, tentulah dia tidak membenci hal itu, tetapi dia akan mengatakan kepada dirinya: “Aku menginginkan ketaatan dari mengajarnya. Dengan belajar kepada orang lain dia ingin menambah ilmu, maka tidak ada yang salah dengan dirinya.” 
 
Telah kami terima riwayat dalam Musnad Imam yang diakui hafalannya dan kepemimpinannya Abu Muhammad Ad-Daarimi rahimahullah dari Ali bin Abu Thalib radliyallahu 'anhu, katanya: “Wahai orang-orang berilmu! Amalkanlah ilmumu karena orang alim itu ialah orang yang mengamalkan apa yang diketahuinya dan ilmunya sesuai dengan amalnya. Akan muncul orang-orang yang mempunyai ilmu dan tidak melampaui tenggorokan mereka dan perbuatan mereka bertentangan dengan ilmu mereka dan batin mereka bertentangan dengan zahirnya. Mereka duduk di majelis-majelis dan sebagian mereka membanggakan diri kepada sebagian lainnya sampai ada orang yang marah kepada kawan duduknya karena belajar kepada orang lain dan dia meninggalkannya. Amal-amal yang mereka lakukan di majelis-majelis itu tidak akan sampai kepada Allah ta'alaa.”
Telah sah riwayat dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bahwa beliau berkata: “Aku berharap kiranya -orang belajar ilmu ini - yakni ilmu dan kitab-kitabnya - agar kiranya dia tidak menisbahkan kepadaku satu huruf pun daripadanya.”
 
Semoga Allah meluruskan niat-niat kita.

Oleh Ustadz Muhammad Faqih 

YANG DILAKUKAN GURU IMAM BUKHORI KETIKA KETINGGALAN SHOLAT JAMAAH

admin 4:24 AM Add Comment
Al Imam Ubaidillah bin Umar Al Qowaariiriy (wafat 235 H) adalah salah  satu Guru Imam Al Bukhari. Beliau pernah menuturkan kisahnya tertinggal sholat Isya sebagai berikut:
 
"Aku belum pernah ketinggalan sholat jamaah isya' sekalipun. Hingga pada suatu malam, ada tamu yang berkunjung padaku. Aku tersibukkan olehnya, sehingga aku tertinggal sholat isya' berjamaah. Lalu aku keluar mencari sholat jamaah di masjid masjid kota Bashrah, namun aku dapati orang-orang telah sholat dan masjid masjid telah ditutup. 

Akhirnya aku kembali ke rumah dan berkata pada diriku: Dalam hadits disebutkan sholat jamaah melebihi sholat sendirian 27 derajat. 

Maka aku pun sholat isya' sendirian sebanyak 27 kali, kemudian tidur. Dalam tidurku aku bermimpi, seolah olah aku bersama suatu kaum yang menunggang kuda. Aku pun menunggang seekor kuda. Kami berlomba pacuan kuda. Aku menghela kudaku, namun tidak kunjung menyusul mereka. 
Akhirnya salah seorang dari mereka menoleh padaku dan berkata: Jangan membuat payah kudamu, kamu tidak akan sanggup menyusul kami. 

Aku bertanya, kenapa?
Dia menjawab, Sebab kami sholat isya' berjamaah sedangkan kamu sholat sendirian.
Lalu aku terbangun dengan perasaan sedih karenanya. Aku memohon pertolongan pada Allah dan taufiqNya, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia."
------------------------------------------------------------------------------- 

Kisah di atas menunjukkan perhatian salafus sholeh kepada sholat berjamaah. Begitu banyak keutamaan sholat berjamaah yang disampaikan oleh Baginda Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam  (baca:Keutamaan berjalan menuju sholat berjamaah di Masjid ). Namun sayang, sholat berjamaah disia-siakan banyak orang pada masa kini. Semoga Allah mudahkan kita semua untuk istiqomah menjaga sholat berjamaah. Aamiin
 
Sumber: Al Kabaair, Imam Adz Dzahabi (wafat 748 H)

Oleh Ustadz Muhammad Faqih